🌐
🏠 ⬆ ↩

Kita Bukan Pemuja Berhala: Dari SilverQueen Sampai Warung Gratis Buat Semut, Burung, dan Cacing

Kita Bukan Pemuja Berhala: Dari SilverQueen Sampai Warung Gratis Buat Semut, Burung, dan Cacing

Oleh Ketut Adhi — Katim Pendidikan Agama dan Keagamaan Hindu, Kanwil Kemenag Provinsi Lampung, sekaligus Guru UWK Eka Dharma Sastra, Bandar Lampung

Kenapa Hindu Bali pakai canang, patung, dan segehan? Jawaban sederhana untuk yang beragama karena warisan, bukan karena paham.

1. Cinta Itu Abstrak. Tuhan Juga.

Tanya 100 orang "Apa itu cinta?" Pasti dapat 100 jawaban beda. Karena cinta masih di ranah abstrak.

Sama seperti Tuhan. Dalam Hindu disebut Nirgunam Brahman - Tuhan tanpa wujud, Acintya tak terpikirkan. Tanya 1000 orang "Apa itu Tuhan?" Dapat 1000 jawaban. Karena masih abstrak.

2. Maka Manusia Bikin Simbol

Karena cinta abstrak, kita bikin simbol:

Bunga mawar = cinta
Cokelat SilverQueen = cinta
Bentuk hati = cinta
Bahkan hubungan seks = cinta

Lihat cowok kasih SilverQueen + bunga ke cewek, satu warung langsung paham: Oh, dia lagi jatuh cinta. Tanpa ngomong sepatah kata.

Tapi balik logikanya: Apakah bunga itu cinta? Bukan. Apakah SilverQueen itu cinta? Bukan. Apakah bentuk hati itu cinta? Bukan. Cinta lebih dari sekedar bunga. Bunga bisa layu, cinta bisa tetap tinggal.

Fungsi simbol: menjembatani yang abstrak biar bisa dipahami, tapi simbol itu sendiri bukan yang abstrak.

3. Hindu Bali Melakukan Hal Yang Sama Persis

Karena Tuhan abstrak (Nirguna), leluhur bikin simbol:

Arca/Pratima = simbol Tuhan (kayak foto ibu di dompet)
Tamas bundar di atas = simbol Beliau (Dewa Yadnya)
Ceper kotak di tengah = simbol kita manusia (Manusa Yadnya)
Segehan segitiga di bawah = simbol alam bawah (Bhuta Yadnya)

Apakah arca itu Tuhan? Bukan. Apakah canang kotak itu Tuhan? Bukan. Tuhan lebih dari sekedar arca. Arca bisa pecah, canang bisa layu, tapi Ida Sang Hyang Widhi Wasa tetap ada.

Ini dalam Veda disebut Pratika-Upasana / Sagunam-Upasana - cara resmi untuk kita yang awam. Yang sudah tinggi bisa langsung Nirguna, kita pakai Saguna dulu. Gita 4.11: Semua jalan menuju-Ku sah.

4. Canang Itu Bukan Buang-Buang, Tapi Warung Gratis - Siklus 3-7 Hari

Parahyangan - Bundar Atas - Cinta ke Tuhan
Pawongan - Kotak Tengah - Rukun sesama dan ekonomi
Palemahan - Segitiga Bawah - Rukun sama alam

Bahan canang: nasi, jajan, bunga, daun, janur. Dalam 3-7 hari:

Remah nasi dimakan semut, anjing, kucing
Bunga daun jadi kompos, dimakan cacing, jadi pupuk Ibu Pertiwi
Pupuk diserap akar, tumbuhan berbunga lagi
Bunga dimakan lebah jadi madu, dipetik manusia lagi buat canang - cinta ke Tuhan lagi

Muter terus. Zero waste 500 tahun sebelum ada istilah zero waste. Makanya leluhur larang plastik, steples. Plastik ga bisa jadi pupuk, burung matuk plastik mati, cacing ga bisa urai.

5. Tamunya Bukan Cuma Semut - Sarwa Prani Hitangkara

Duduk 5 menit depan merajan habis mebanten, yang datang pesta lengkap:

Bawah: semut rapat, cacing gemburin tanah, lalat cleaning service, anjing kucing lewat jilat nasi
Tengah: kita manusia seneng lihat indah harum
Atas: burung gereja turun cari biji, kupu-kupu dan lebah pesta di bunga

Satu nampan, 8 makhluk kenyang. Tanpa undangan. Tanpa bayar.

Itu namanya Sarwa Prani Hitangkara - Sarwa=semuanya, Prani=makhluk bernafas, Hitangkara=membawa kebaikan. Kasih sayang yang membawa kebaikan untuk semua yang bernafas. Termasuk yang geli kayak cacing dan berisik kayak lalat.

6. Sentuhan Pawongan - Ekonomi Rakyat Bergerak

Ini yang sering lupa dibahas. Satu canang kecil, ekonomi satu banjar hidup:

Tukang busung potong janur pagi-pagi
Petani bunga di desa petik marigold, mawar, melati
Petani buah bawa pisang, kelapa
Pedagang di pasar jual daun, pisang, boreh
Tukang canang - ibu-ibu ngayah bikin ceper 100 biji, dapat uang belanja
Pemangku, tukang banten dapat upah (daksina)

Bayangkan tiap hari 1 keluarga di Bali bikin 20 canang. 1 juta keluarga = 20 juta canang sehari. Berapa busung, bunga, buah yang laku? Berapa ibu-ibu dapat penghasilan?

Itu namanya Pawongan masuk. Parahyangan sudah (cinta Tuhan), Palemahan sudah (kompos buat semut burung cacing), Pawongan-nya: ekonomi bergerak, tetangga dapat rejeki.

Kalau pakai plastik pabrik impor, uangnya lari ke pabrik, bukan ke petani bunga lokal. Leluhur milih bahan organik bukan cuma suci, tapi juga strategi ketahanan ekonomi lokal.

7. Penutup: Satyam Siwam Sundaram

Setiap simbol kita mengandung:

Satyam = Benar - benar-benar dimakan semut burung, benar-benar jadi pupuk, bukan simbol kosong
Siwam = Suci/Baik - baik untuk semua makhluk, baik untuk petani bunga, baik untuk ekonomi banjar
Sundaram = Indah - indah dilihat, harum dicium, rame tamunya, ekonomi hidup

Kalau satu canang sudah benar, suci, indah, menghidupi semut sampai petani - di mana letak setannya? Di mana letak berhalanya?

Yang ada hanya kasih sayang leluhur yang diterjemahkan jadi seni, jadi ekologi, jadi ekonomi.

Untuk yang beragama karena warisan: Kamu tidak buang bunga. Kamu buka warung gratis. Semut kenyang, tanah kenyang, lebah kenyang, petani kenyang, Tuhan senyum lihat restoranmu rame. Tanpa bunga, banyak cinta gagal tersampaikan. Tanpa canang, banyak doa gagal terfokuskan.

Om Shanti Shanti Shanti Om - Moksartham Jagadhita ya ca iti Dharma


Baca Juga:
Kenapa Banten Bali Bentuknya Bulat, Kotak, Segitiga? Ternyata Ini Artinya

Sumber yang bisa dicek: Jurnal Sphatika IHDN Denpasar Vol 11 No 2 2020 - Keberadaan Simbol Dalam Pemujaan Hindu Bali Perspektif Teologi Hindu, Bhagavad Gita 4.11, 4.13, Sarasamuccaya, Lontar Tutur Mpu Lutuk Alit, Konsep Tri Hita Karana, Sarwa Prani Hitangkara, Satyam Siwam Sundaram