Pendahuluan
Riba dalam Hindu Dharma dibahas secara rinci dalam Manawa Dharmasastra dengan istilah Kusidin, Kusida, atau Kusidinam. Berdasarkan kajian terhadap 12 sumber teks Hindu dan 106 istilah kamus Eka Dharma Sastra, Hindu Dharma membedakan secara tegas antara Kusidin yang bersifat Dharma dan praktik Lintah Darat yang bersifat Adharma.
Moksartham Jagadhita ya ca iti Dharma - Tujuan Dharma adalah Moksa dan kesejahteraan dunia.
1. Pengertian Kusidin dalam Manawa Dharmasastra 10.115
Bahasa Sanskerta: kusida berarti pinjam-meminjam dengan bunga.
Manawa Dharmasastra 10.115 menyebutkan tujuh cara halal memperoleh harta:
- Warisan (Dayada)
- Pemberian (Pratigraha)
- Jual Beli (Kraya Vikraya)
- Kusidin - Bunga pinjaman produktif
- Pertanian (Krsikarma)
- Perdagangan (Vanikpatha)
- Hasil Karya (Silpa)
Kusidin halal jika untuk usaha produktif. Arthasastra 3.11 Dhanya Vriddhi: bunga produktif = Dharma, konsumtif foya-foya = Adharma.
2. Sistem Bunga Bertingkat Manu 8.140-152
Manawa Dharmasastra mengatur bunga bertingkat berdasarkan risiko:
| Varna | Bunga / Bulan | Keterangan |
| Brahmana | 2% | Risiko rendah |
| Ksatriya | 3% | Risiko sedang |
| Wesya | 4% | Risiko dagang |
| Sudra | 5% | Risiko tinggi |
Manu 8.151: Na Vriddhim Vardhayet - Larangan keras bunga berbunga (compound interest)
Manu 8.152: Pemberi pinjaman Lintah Darat tidak layak menjadi saksi di pengadilan karena Adharma.
Ciri Lintah Darat Melanggar Manu: Bunga 10-30% per bulan, bunga berbunga, teror, untuk pribadi.
3. Lintah Darat dan Linting Darat
KBBI: Lintah Darat = rentenir bunga mencekik. Lokal Bali-Lampung: Linting Darat makna sama. Pakai dua istilah untuk SEO nasional + lokal.
4. LPD Bali 1.5% Sebagai Model Kusidin Dharma
- Bunga hanya 1.5% per bulan, di bawah Manu 2-5%
- 20% keuntungan untuk desa, pura, beasiswa
- Modal hanya untuk usaha Dharma
- Aset +24.55%
Tri Hita Karana Ekonomi: Parahyangan, Pawongan, Palemahan
5. Tiga Model Alternatif Win-Win
1. Paribhasa - Bagi Hasil: Pinjam bibit, hasil panen dibagi proporsional tanpa bunga tetap.
2. Adhi - Gadai Produktif: Sawah digadaikan tetap digarap pemiliknya, hasil dibagi bersama.
3. Mitra Dharma - Koperasi Dharma: Koperasi simpan pinjam milik banjar dengan bunga rendah.
6. Akar Kebingungan Modern: Mengapa Umat Hindu Kini Mengira Semua Bunga Haram?
Untuk pengakuan negara tahun 1958-1959, Hindu Bali harus diformalkan agar terlihat monoteis: diciptakan istilah Hyang Widhi Wasa (1920-an), ditetapkan Hari Nyepi, Hari Wyasa, dan doa Tri Sandhya (1959).
Dampak ekonomi: banyak penceramah ikut bilang semua bunga haram, padahal Manu 10.115 jelas masukkan Kusidin sebagai 1 dari 7 mata pencaharian halal. Umat takut pinjam LPD 1.5% halal, malah lari ke Lintah Darat 10-30% ilegal.
"Sekolah ini adalah bukti nyata kemandirian umat Hindu dalam mengembangkan pendidikan. Harapannya, UWK Eka Dharma Sastra mampu melahirkan generasi Hindu yang cerdas, berkarakter, dan tetap berpegang pada nilai-nilai luhur," — Pernyataan YAYASAN BANJAR TENGAH (AHU-4238.AH.01.04/2013) untuk UWK Eka Dharma Sastra.
7. Kamus 106 Istilah Terkait
| Istilah | Arti |
| Kusidinam | Pinjaman berbunga |
| Vriddhi | Bunga/pertumbuhan |
| Dhanya Vriddhi | Bunga produktif |
| Rina | Hutang |
Penutup
Kusidin halal jika: bunga rendah 2-5%, untuk usaha produktif, tidak bunga berbunga, berorientasi Tri Hita Karana.
Lintah Darat Adharma jika: bunga tinggi 10-30%, bunga berbunga, teror, untuk kepentingan pribadi.
📚 BACA JUGA
Mantra, Yantra, dan Tantra dalam Perspektif Veda - Kajian Eka Dharma Sastra
Artikel ini telah dibaca 226 kali dan menjadi rujukan utama pemahaman Tri Sandhya dan Yantra dalam Pemujaan.
Daftar Pustaka
1. Manawa Dharmasastra, X.115 dan VIII.140-152.
2. Kautilya, Arthasastra, III.11 Dhanya Vriddhi.
3. Tim Penyusun, Kamus Eka Dharma Sastra, UWK Eka Dharma Sastra Bandar Lampung, 2024.
4. LPD Provinsi Bali, Laporan Tri Hita Karana Ekonomi, 2023.
5. PHDI, Himpunan Keputusan Formalitas Hindu 1920-1959.
6. Wiana, I Ketut, dkk., Tri Hita Karana Menurut Konsep Hindu, 2007.
Penulis: Ketut Adhi - GURU UWK Eka Dharma Sastra Bandar Lampung - YAYASAN BANJAR TENGAH (AHU-4238.AH.01.04/2013)


