Kenapa Banten di Bali Bentuknya Bulat, Kotak, Segitiga? Ternyata Ini Artinya Buat Kamu yang Baru Mulai Kepo Sama Agama Hindu Bali
Pernah ga sih kamu merhatiin, tiap hari di Bali kita liat banten bentuknya macem-macem? Ada yang alasnya kotak, ada yang bundar, ada yang lancip segitiga di bawah. Awalnya keliatannya cuma hiasan dari janur, tapi ternyata di balik itu ada filosofi simpel yang gampang banget diinget.
Jadi di tradisi kita, semua banten itu sebenernya cuma punya 3 bentuk dasar. Kalau kamu udah hafal 3 ini, kamu bakal langsung paham: oh ini untuk siapa, ini taruh di mana, tanpa harus buka lontar tebel.
Bulat - Yang di Atas - Untuk Beliau
Bulat itu ga ada sudut, ga ada awal akhir, mulus. Makanya di Bali dipakai buat simbol yang sempurna, yang di atas, yang suci.
Menurut beberapa sumber lontar dan kajian canang sari:
- Ceper yang bentuknya segi empat itu simbol Ardha Candra (bulan)
- Tamas kecil yang bundar itu simbol Windhu (matahari)
- Sampian Urasari yang bundar di atasnya itu simbol Windhu juga, tempat naruh bunga, lambang matahari
Contoh yang sering kamu liat:
- Tamas - alas bundar yang sering dipakai buat alas canang di pura
- Sesayut - bentuknya bundar, biasanya di atas banten
- Daksina - kelapa bulat sama telur itik di paling atas
- Gebogan - buah yang paling atas yang bulat-bulat kayak apel, jeruk, itu mahkotanya
Jadi kalau kamu liat yang bulat dan posisinya paling atas, itu udah pasti untuk Beliau yang di atas. Makanya ditaruh paling tinggi, paling dihormati, ga boleh diinjak.
Segi Empat - Yang di Tengah - Untuk Kita
Segi empat itu stabil, ada 4 sisi, kayak meja. Makanya jadi simbol badan kita, wadah kita, tempat kita curhat.
Kajiannya bilang:
- Ceper segi empat itu melambangkan angga-sarira (badan kita), dan keempat sisinya itu Panca Maha Bhuta, Panca Tan Mantra, pembentuk badan kita
- Bentuk segi empat juga melambangkan Catur Loka Pala atau empat arah mata angin, dan catur purusa artha
Yang kamu temui tiap hari:
- Ceper - yang ibu bikin tiap pagi dari janur, kotak
- Taledan / Aled - kotak panjang
- Peras, Ajuman, Sodaan - alasnya kotak
Ini tuh kayak piring kita. Di atas ceper kotak itu kita taruh doa, bunga, harapan kita. Jadi kotak di tengah itu kita, manusia yang lagi di tengah-tengah antara atas dan bawah.
Segitiga - Yang di Bawah - Untuk Alam
Segitiga itu lancip, kayak gunung, ada 3 sudut. Di Bali dipakai buat yang di bawah, buat penjaga alam, biar seimbang.
Kamu pasti sering liat:
- Segehan - alasnya segitiga, ditaruh di bawah di nataran tiap pagi
- Tipat, Klatkat - bungkusnya segitiga
- Penyeneng - alasnya segitiga
Ini untuk Bhuta, untuk alam bawah, biar mereka ga ganggu, biar kita hidup tenang. Makanya taruhnya di bawah, di tanah.
Terus Hubungannya Sama Kehidupan Kita Apa?
Di Bali ada filosofi terkenal namanya Tri Hita Karana. Artinya tiga penyebab kesejahteraan: harmoni antara manusia dengan Tuhannya, dengan sesamanya, dan dengan alamnya. Konsep ini bahkan dipakai PHDI dan pemerintah Bali buat pedoman hidup.
Nah 3 bentuk banten tadi itu prakteknya Tri Hita Karana versi paling simpel:
| Bentuk | Posisi | Tri Hita Karana |
| Bulat | Di Atas | Parhyangan - hubungan kita sama Tuhan |
| Kotak | Di Tengah | Pawongan - hubungan kita sama sesama manusia |
| Segitiga | Di Bawah | Palemahan - hubungan kita sama alam |
Dan ada juga konsep Tri Sarira, tubuh manusia itu ada 3: ceper segi empat itu Angga Sarira (badan kasar), duras yang bundar itu Suksma Sarira (badan halus/ roh). Jadi satu canang aja udah ngajarin kita tentang diri kita sendiri.
Jadi kalau dirangkai dari bawah ke atas: segitiga (bawah/alam), segi empat (tengah/kita), bulat (atas/Beliau) - kalau dirangkai jadi satu keliatannya kayak Siwa Lingga, simbol keseimbangan. Ada sumber yang bilang memang terdiri dari tiga bentuk segitiga, bundar, segi empat, kalau dirangkai menyerupai wujud Siwa-Linggam.
Jadi Gini Simpelnya
Kamu ga perlu hafal 100 nama banten. Cukup liat bentuk alasnya:
- Kalau bulat dan di atas - untuk Beliau di atas
- Kalau kotak dan di tengah - untuk kita di tengah
- Kalau segitiga dan di bawah - untuk alam di bawah
Besok pagi coba deh perhatiin pas ibu atau nenek bikin canang. Alasnya ceper kotak kan? Itu badan kita. Di atasnya ada sampian bundar kan? Itu untuk Beliau. Di nataran ada segehan segitiga kan? Itu untuk alam bawah. Dalam satu pagi aja kamu udah praktekin Tri Hita Karana tanpa sadar.
Santai kan? Agama Hindu Bali itu ga ribet, cuma kita aja yang kadang bikin ribet. Mulai dari kenali 3 bentuk ini dulu, lama-lama kamu bakal paham sendiri makna-makna yang lebih dalem.
Sumber terpercaya: Lontar Mpu Lutuk Alit & Mpu Sangkulputih (pencipta Canang Sari di Besakih), Eprints UNY - Bab V Bentuk dan Fungsi Seni Sesaji Canang Sari, PHDI & Parisada Hindu Dharma Indonesia - Konsep Tri Hita Karana, Kajian Canang Sari - Pura Gunung Salak
Ditulis untuk remaja Hindu yang mulai kepo sama agamanya - UWK Eka Dharma Sastra Bandar Lampung - NPSN 70060390
Belajar bareng tanpa menggurui, karena dharma itu untuk dijalani, bukan cuma dihafal
Moksartham Jagadhita ya ca iti Dharma






